SEJARAH SHOLAWAT FATIH
Asal mula shalawat ini adalah dari Al-Quthb Asy-Syeikh Muhammad bin Abil Hasan Al-Bakri As-Shiddiq. Dikisahkan dahulu sekitar tahun (1180-1196 H) dalam usia 46 tahun Al-Quthbul Maktum Asy-Syeikh Ahmad bin Muhammad bin Asy-Syarif Al-Hasani At-Tijani ra. berjumpa Sayyidul Wujud Rasulullah SAW dalam keadaan terjaga bukan mimpi.
Syeikh Ahmad At-Tijani menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW memberi tahu kepadanya bahwa sholawat fatih bukan murni susunan Syekh Al-Bakri. Namun Syekh Muhammad Al-Bakri beribadah memohon kepada Allah Swt dalam waktu yang lama, agar dianugrahi suatu sholawat yang meliputi pahala, sir, fadhiah-fadhilah dan keistimewaan semua shalawat Nabi Muhammad SAW didalamnya.
Setelah sekian lama waktu memohon, Allah mengabulkan doa syekh Muhmmad Al-Bakri, yaitu malaikat datang membawa sholawat fatih ini, yang tertulis dalam sebuah lembaran nur. Itu sebabnya diberi nama Shalawat Al-Bakriyah sebagaimana juga diberi nama Al-Yaaqutatul Faridah (permata Yaqut yang tidak ada duanya) tetapi kemudian lebih terkenal dengan Sholawat al-Fatih.
Syekh Ahmad Tijani kemudian diberi ijazah Sholawat Al-Fatih ini langsung dari Rasulullah Saw dan diberi penjelasan tentang pahala, sirr, faedah dan keistimewaannya juga tingkatan memberi ijazah pada orang lain
Dari situlah kemudian, shalawat al-Fatih ini menjadi salah satu ciri khas dari Tarekat Tijaniyah. Diantara keistimewaan sholawat fatih ini tidak ada yang menyimpang dari ayat atau kandungan Al Quran. Namun harus tetap diingat bahwa Sholawat al-Fatih bukan sebagian dari Al Quran.
Syekh Ahmad Al-Tijani dilahirkan pada tahun 1150 H (1737 M) di 'Ain Madi, sebuah desa di Aljazair. Syekh Tijani memiliki nasab sampai kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم yakni dari Sayyidah Fatimah Az-Zahra radhiyallahu 'anhu, putri Rasulullah. Beliau wafat pada Tahun 1230 H dan dimakamkan di Kota Fez, Maroko.
Diceritakan bahwa beliau bertemu Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Nabi mengajarkannya untuk membacakan Sholawat Fatih. Berikut redaksinya:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ۞
"Ya Allah curahkanlah sholawat atas junjungan kami Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam, yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalanMu yang lurus. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada beliau, kepada keluarganya dan kepada semua sahabatnya dengan sebenar-benar kekuasaanNya yang Maha Agung."
Syekh At-tijani berkata: "Nabi shallallahu alaihi wasallam memerintah aku untuk kembali kepada Sholawat Al-Fatih ini. Maka ketika beliau memerintahkan aku dengan hal tersebut, akupun bertanya kepadanya tentang keutamaannya. Maka beliau mengabariku pertama kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai membaca Al-Qur'an enam kali. Kemudian beliau mengabarkan kepadaku untuk kedua kalinya bahwa satu kali membacanya menyamai setiap tasbih yang terdapat di alam ini dari setiap dzikir, dari setiap doa yang kecil maupun besar, dan dari Al- Qur'an 6.000 kali, karena ini termasuk dzikir."
Adapun ulama yang menambahkan redaksi "wa ashhabihi" sebagai takhsish (penyebutan secara khusus) dari keumuman kata "Alihi" (keluarga Nabi). Syekh Ahmad at-Tijaniy ditanya, mengapa Sholawat Fatih tidak memakai kalimat "wa sallim"? Beliau menjawab: "Karena Shalawat Fatih bersumber dari Allah, bukan susunan yang dibuat oleh manusia."
Rasulullah sendiri berkata kepada Sayyidi Syekh Ahmad Bin Muhammad Tijani radhiyallahu anhu:
ما صلى علي احد بأفضل من صلاة الفاتح
"Tidaklah seseorang membaca shalawat kepadaku dengan shalawat yang paling utama, melainkan ia membaca dengan Sholawat Fatih."
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ

Alhamdulillah,,menbah ilmu lagi,,kesuwun
BalasHapus