MASA ANAK NABI MUHAMMAD
Nabi Muhammad SAW lahir dari rahim Siti Aminah binti Wahab. Kelahiran Nabi memancarkan sinar. Para penyair pun menggambarkan indahnya suasana saat kelahiran Muhammad.
“Semesta bersinar menyambut kelahiran Muhammad sang mulia. Kegembiraan menyelimuti seantero jagat raya. Burung-burung berkicau ria menyambut Baginda. Tiada yang menandingi cahaya terangnya," kata penyair yang menggambarkan suasana lahirnya Nabi Muhammad SAW dilansir dari NU Online, Selasa (19/10/2021).
Sebagai pertanda risalah sebelum menjadi nabi, kelahiran Muhammad juga ditandai dengan sejumlah mukjizat atau peristiwa di luar rasional.
Kitab Sirah Nabawi (sejarah Nabi) seperti Zad al-Ma’ad karya Ibnu Qayyim, Raudhatul Unf karya Ibnu Hisyam, Sirah Ibnu Hiysam karya Ibnu Hisyam, Rahiq al-Makhtum karya Safyurrahman al-Mubarakfuri.
Syeikh Sofiyurrahman Al-Mubarakfuri mengatakan dalam bukunya Ar-Rahiqul Al-Makhtuum, bahwa pada malam tersebut telah terjadi peristiwa-peristiwa yang tidak lazim di belahan bumi lain. Api sesembahan kaum Majusi yang diyakini telah menyala seribu tahun lebih, seketika padam dan tidak mampu dinyalakan kembali. Gereja dan biara di Kerajaan Romawi pun tiba-tiba runtuh. Sementara di Bumi Persia, 14 balkon istana Raja Kisra juga mengalami hal yang sama. Seakan alam ini tengah mempersiapkan diri menyongsong kelahiran Baginda Nabi SAW, Sang Penutup para nabi dan penyempurna ajaran-ajaran Tuhannya.
1. Ibunda wafat saat Nabi Muhammad SAW berusia enam tahun
Siti Aminah merupakan istri yang setia. Dia sering berziarah ke makam suaminya yang berada di Yatsrib (sekarang Madinah). Aminah yang tinggal di Mekkah rela menempuh perjalanan 500 km untuk berziarah ke makam suaminya.
Pada usia enam tahun, Muhammad menemani ibunya untuk berziarah. Di Yatsrib, mereka tinggal selama satu bulan.
Setelah itu, mereka memutuskan kembali ke Mekkah. Namun, dalam perjalanan dikampung Abwa yang letaknya antara Mekkah dan Madinah, Siti Aminah meninggal dunia karena sakit.
Muhammad kecil pun menjadi yatim piatu pada usia enam tahun. Muhammad kemudian diasuh kakeknya, Abdul Muthalib.
Pada usia delapan tahun, kakek Muhammad juga wafat. Dia kemudian diasuh pamannya, Abu Thalib.
2. Keberkahan Nabi Muhammad SAW sudah ada sejak kecil
Masyarakat Arab yang hidup di daerah perkotaan memiliki tradisi untuk menitipkan bayi-bayi mereka kepada perempuan-perempuan desa. Bayi itu akan dirawat dan disusui dengan baik. Sebagai imbalannya, perempuan desa tadi akan mendapatkan upah yang telah disepakati sebelumnya.
Hal itu dilakukan sebagai tindakan preventif bagi si bayi. Iklim perkotaan Arab kurang baik untuk seorang bayi, sehingga dulu orang-orang Arab memilih untuk menitipkan bayinya ke perempuan pedesaan dan dirawat di desa, agar kesehatan bayi terjaga dan tumbuh kuat.
Hal ini juga dialami oleh Nabi Muhammad saat masih bayi. Beliau pernah dirawat dan disusui oleh seorang perempuan desa dari kabilah Sa’ad bin Bakr yang bernama Halimah As-Sa’diyyah binti Abu Dzuaib. Muhammad kecil hidup di perkampungan kabilah Sa’ad sampai usia empat tahun, ada yang mengatakan sampai usia lima tahun.
Halilmah As-Sa’diyyah sendiri memiliki tiga orang anak, yaitu Abdullah bin Harits, Anisah binti Harits dan Hudzafah atau Judzamah binti Harits (yang dijuluki asy-Syima’). Secara otomatis, tiga anak Halimah itu menjadi saudara susuan Rasulullah saw. Selain Rasulullah, Halimah juga pernah menyusui paman Nabi yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib.
Sebelum menyusu kepada Halimah as-Sa’diyyah, Muhammad pernah menyusu kepada perempuan mantan budak dari Abu Lahab, yaitu Tsuwaibah al-Aslamiyah. Selain menyusui Rasulullah Saw, Tsuwaibah juga pernah menyusui Masruh (putra Tsuwaibah), Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Abu Salamah bin Abdul Asad al-Makhzumi. Jadi, Rasulullah merupakan saudara satu susuan dengan Hamzah dari dua jalur, yaitu Tsuwaibah al-Aslamiyah dan Halimah as-Sa’diyyah.
Keluarga Halimah hidup di perkampungan kabilah Sa’ad bin Bakr. Perkampungan itu terkenal tandus, bahkan di Arab tidak ada perkampungan yang lebih tandus dari kampung itu. Kampung kabilah Sa’ad bin Bakr sedang dilanda paceklik. Hewan ternak di kampung tidak ada yang tumbuh subur, semuanya kering dan kurus.
kondisi perekonomian keluarga Halimah juga sedang tidak membaik. Bahkan, kedua bayinya terus menangis karena seharian tidak bisa mendapatkan susu, air susu ibu (ASI) Halimah tidak mengeluarkan ASI dan unta miliknya pun tidak mengeluarkan air susu untuk diperah. Susah benar kondisi keluarga Halimah saat itu.
Suatu hari, Halimah bersama perempuan-perempuan kampung Kabilah Sa’ad yang lain pergi ke kota Mekah untuk menwarkan jasa ASI mereka. Dalam perjalanan menuju kota, ia juga ditemani sang suami (Haritsah) dan kedua anaknya yang masih bayi. Mereka berempat mengendarai keledai betina berwarna putih kehijauan dan seekor unta yang sudah tua (dalam versi lain unta berusia dua tahun).
Semua perempuan sudah mendapatkan bayi dan semua sepakat untuk kembali ke kampung. Namun, lagi-lagi kenaasan menimpa keluarga Halimah, hanya ia sendiri yang belum mendapatkan bayi. Mungkin karena kondisi Halimah yang tidak meyakinkan. Untuk menyusui anak sendiri saja tidak bisa.
Halimah bertekad tidak akan pulang sebelum mendapat bayi untuk disusui. Namun bagaimana lagi, hanya Rasulullah seorang yang belum mendapat ibu susuan. Tanpa pikir panjang, Halimah pun menjemput Rasulullah kecil di rumahnya dan membawanya untuk disusui. Allah Swt sudah merencanakan kebaikan bagi keluarga Halimah.
Keanehan mulai dirasakan Halimah. Saat baru saja Rasulullah saw berada di pangkuannya, kedua asinya seakan bereaksi untuk menyusui bayi yang berada dalam pangkuannya.
ASI-nya tiba-tiba dipenuhi air susu. Rasulullah saw bisa menyusu dengan kenyang. Tidak hanya itu, kedua bayi yang tadinya tidak berhenti menangis pun bisa ikut menyusu sampai kenyang dan bisa tidur pulas.
Bukan saja kedua ASI Halimah yang penuh, kini unta tua miliknya juga berisi susunya. Halimah dan suami pun bisa menghilangkan dahaga masing-masing. Pada malam harinya mereka bisa beristirahat. Semuanya bisa kenyang dan tidur dengan pulas. Tidak seperti malam-malam sebelumnya.
Pagi harinya mereka melanjutkan perjalanan menuju kampung. Lagi-lagi keanehan dialami keluarga Halimah. Keledai yang mereka tunggangi melaju dengan begitu cepat. Bahkan mengalahkan rombongan lain yang menunggangi unta merah. Unta merah adalah jenis unta terbaik.
Rombongan yang lain merasa keheranan, keledai yang tadinya lemah dan jalannya sangat lambam, kini justru melaju cepat mengalahkan kendaraan terbaik mereka. Ada sesuatu pada keledai itu. Pikir mereka.
Sesampainya di kampung, keanehan pun belum selesai dialami keluarga Halimah. Kondisi kampung yang sedang paceklik membuat susah mencari rumput dan hewan ternak mereka kurus serta tidak mengeluarkan susu untuk diperah. Namun tidak dengan kambing milik Halimah. Kambing miliknya mengeluarkan susu yang begitu banyak sehingga bisa diperah berkali-kali.
Melihat keganjilan itu, orang-orang kampung berinisiatif untuk mengikutkan kambing-kambing mereka ke mana pun kambing Halimah digembalakan. Tapi tetap saja, kambing-kambinng mereka kurus dan tak mengeluarkan air susu. Sementara kambing Halimah terus berisi susunya dan bisa diperah berkali-kali untuk diminum.
sudah kesepakatan bahwa Muhammad kecil hanya dua tahun saja disusui Halimah. Sudah saatnya Muhammad kembali ke pangkuan ibunda, Siti Aminah. Selama dua tahun, Halimah merasakan betul keberkahan Muhammad kecil.
Halimah pun menemui ibu Rasulullah saw. Tapi ia tidak bermaksud mengembalikannya ke pangkuan ibunda. Halimah justru menawar dan membujuk Aminah agar Muhammad tetap dirawatnya hingga ia besar.
“Saya berharap engkau berkenan jika anak ini aku rawat sampai besar. Sebab, aku khawatir dia akan terserang penyakit menular yang biasa menjangkiti kota Makkah,” bujuk Halimah. Halimah terus memelas di hadapan Aminah. Usaha Halimah berhasil dan Muhammad ia bawa kembali untuk dirawatnya.sampai terjadi pembelahan dada nabi kemudian halimah mengembalikan ke Aminah ketika nabi beumur lima tahun
3. Menjadi berkah di keluarga pamannya
Abu Thalid menjadi paman asuh bagi Muhammad setelah kakeknya wafat. Abu Thalib memiliki sejumlah anak.
Kondisi ekonominya bisa dibilang sederhana. Sebelum ada Muhammad, Abu Thalid kadang kekurangan dalam memberikan makan untuk anak-anaknya.
Namun, ketika ada Muhammad, makanan mereka menjadi cukup. Oleh karenanya, Abu Thalib dan istri sering menunggu Muhammad untuk makan agar anak-anaknya tak kekurangan.
Selain itu, Abu Thalib juga sering meminta Muhammad kecil untuk meminum susu terlebih dahulu. Sebab, bila Muhammad minum terlebih dulu, maka susu tersebut akan cukup diminium anak-anaknya hingga puas.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ

Komentar
Posting Komentar