MASA REMAJA NABI
Pada usia enam tahun, Nabi Muhammad kembali hidup dan tinggal bersama sang ibunda. Namun tidak berselang lama, beliau ditinggal wafat yang ibunda. Nabi kemudian diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Tidak lama kemudian, kakeknya wafat dan Nabi diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.
Pada saat usia delapan tahun, Nabi Muhammad mulai bekerja menggembala kambing milik orang kaya Makkah. Disebutkan Nizar Abazhah dalam Bilik-bilik Cinta Muhammad (2018), setidaknya ada tiga alasan mengapa Muhammad kecil akhirnya memutuskan untuk bekerja menggembala kambing. Pertama, membantu meringankan beban ekonomi Abu Thalib. Kedua, Kedua, menggembala kambing tidak butuh modal. Ketiga, Nabi Muhammad senang berada di padang yang luas karena di sana beliau bebas merenungkan segala sesuatu secara mendalam tanpa ada yang mengganggunya. Beliau menjadi penggembala kambing kurang lebih selama empat tahun.
Nabi Muhammad tumbuh menjadi anak yang mandiri dan senang membantu. Meski demikian, masa-masa bermain tak luput dari kehidupan beliau, seperti halnya anak-anak Mekah lainnya. Hamzah, paman Nabi Muhammad, menjadi teman bermain yang menyenangkan. Saat menggembala kambing, Nabi Muhammad juga bermain bersama teman-temannya, anak-anak penggembala.
Pada saat usia 12 tahun, beliau diajak Abu Thalib untuk ikut dalam kafilah dagang ke Syam
Syekh Said Ramadhan al-Buthi dalam kitab Fiqhus Sirah Nabawiyah menceritakan ihwal perjumpaan Nabi Muhammad dengan salah satu pendeta Yahudi. Dalam kitabnya disebutkan, ketika usia Nabi Muhammad ﷺ genap 12 tahun, Abu Thalib melakukan perjalanan ke negeri Syam untuk berdagang bersama kafilah dagang Quraisy. Dia pun mengajak Muhammad kecil untuk ikut serta dalam perjalanan panjang itu. Ketika rombongan itu singgah di Bashra, wilayah antara Syam dan Hijaz, mereka bertemu dengan seorang pendeta Yahudi bernama Buhaira. Seorang pendeta yang sangat menguasai isi Kitab Injil dan memahami betul ajaran Yahudi. Di sanalah Buhaira melihat Nabi Muhammad ﷺ sekaligus menjadi awal pertemuan mereka berdua.
Buhaira merupakan salah satu pendeta Nasrani yang masih memegang teguh dan mempertahankan tauhidnya kepada Allah ﷻ, dengan meyakini bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan Nabi Isa ‘alaihissalam bukanlah anak Tuhan melainkan seorang nabi yang diutus oleh Allah ﷻ.
Dalam perjumpaan itu, dia memperhatikan Nabi Muhammad secara saksama dan mengajaknya bicara. Setelah pembicaraan itu selesai, Buhaira menemui Abu Thalib dan menyampaikan pertanyaan kepadanya, “Apa hubungan anak itu denganmu?”
Abu Thalib menjawab, “Dia putraku.” (Abu Thalib menyebut Nabi Muhammad sebagai putranya karena begitu besar cinta dan sayang kepadanya).
Buhaira menukas, “Dia bukan putramu. Tidak mungkin ayah anak ini masih hidup.”
Abu Thalib akhirnya mengaku, “Dia keponakanku.”
“Apa yang terjadi pada ayahnya?” tanya Buhaira.
“Dia meninggal saat ibunya masih mengandungnya,” jawab Abu Thalib.
“Engkau berkata benar. Sekarang, segera bawa pulang anak ini kembali ke negerimu dan jagalah dia dari orang Yahudi. Karena, demi Allah, jika mereka melihatnya di sini, pasti mereka akan berbuat jahat kepadanya. Ketahuilah, keponakanmu ini kelak akan memegang urusan yang sangat besar.” Mendengar penjelasan Buhaira, Abu Thalib bergegas membawa Nabi Muhammad pulang ke Makkah” (Syekh Said Ramadhan al-Buthi, Fiqhus Sirah Nabawiyah, [Beirut: Dar al-Fikr 2020], h. 63)
Tanda-tanda menjadi sosok tuntunan umat, sudah tampak sejak Muhammad SAW remaja. Kabar kejujuran keponakan, Abu Thalib ini terdengar dan menggema di kawasan tersebut.
Remaja laki-laki ini piawi dalam berdagang dan selalu jujur dan bisa dipercaya sehingga perniagaan pamannya (Abu Thalib) maju pesat dan disukai rekan usahanya di semua negeri yang dikunjungi Abu Thalib.
Sehingga masyarakat di jazirah Arab ini mengenal dengan sesungguhnya ahklak mulia Muhammad SAW dan memberi gelar Al-Amin (yang bisa dipercaya).
Hingga suatu ketika seorang saudagar kaya Makkah, Sayyidah Khadijah, membuka lowongan kerja bagi siapa saja untuk menjajakan barang dagangannya. Abu Thalib mendengar hal itu dan kemudian menawarkannya kepada Nabi Muhammad. Beliau menerima tawaran tersebut.
Tugas pertama Nabi Muhammad adalah berniaga ke negeri Syam. Beliau ditemani Maisaroh—budak Sayyidah Khadijah—dengan membawa barang dagangannya berupa kain-kain.
Berkat kerja keras, sikap jujur, dan amanah, Nabi Muhammad berhasil menjajakan barang dagangannya. Semuanya laku terjual dan untung banyak. Setelah mendengarkan cerita dari Maisaroh, Sayyidah Khadijah terkesima dengan sikap dan perangai Nabi Muhammad dalam mendagangkan barangnya.
Nabi Muhammad sudah menjadi pemimpin kafilah dagang ke luar negeri pada saat usianya baru 17 tahun. Ia berdagang hingga ke 17 negari lebih. Di antaranya Syam, Yordania, Bahrain, Busra, Irak, Yaman, dan lainnya.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ
.

Komentar
Posting Komentar