WAHYU PERTAMA DAN KEDUA NABI MUHAMMAD SAW
Nabi Muhammad SAW yang ditugaskan oleh Allah SWT untuk membimbing umat Islam menuju jalan yang benar sehingga mampu meraih surga, adalah panutan bagi umat Islam di seluruh dunia. Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya ketika beliau sudah berumur 40 tahun. Berikut adalah kisah lengkap Nabi Muhammad SAW saat menerima wahyu pertama dari Allah SWT.
Dikutip dari buku Kisah Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum Hijriyah tepatnya di Gua Hira. Kejadian ini diawali ketika Nabi Muhammad SAW prihatin akan keruntuhan moral yang sangat para di Kota Mekkah.
Kemudian dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Aisyah istri Nabi Muhammad SAW berkata “Peristiwa awal turunnya wahyu kepada Rasulullah SAW adalah diawali dengan Ar-ru'yah ash-shadiqah (mimpi yang benar) di dalam tidur. Tidaklah Beliau bermimpi, kecuali yang Beliau lihat adalah sesuatu yang menyerupai belahan cahaya Shubuh. Dan di dalam dirinya dimasukkan perasaan untuk selalu ingin menyendiri.”
Kemudian beliau memutuskan untuk berdiam diri di dalam Gua Hira.
Khalwat di Gua Hira
Imam Al-Bukhari merilis riwayat Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ:
أَوَّلُ مَا بَدَئَ بِهِ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِيْ النَّوْمِ، فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيًا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلْقِ الصُّبْحِ. ثُمَّ حَبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلاَءُ وَكَانَ يَخْلُوْ بِغَارِ حَرَاءَ فَيَتَحَنَّثُ فِيْهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِي ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ، وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ. ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيْجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حَرَّاءَ. فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ: اِقْرَأْ. قُلْتُ: مَا أَنَا بِقَارِئٍ
Artinya, “Permulaan yang menjadi awal Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menerima wahyu adalah mimpi yang baik. Setiap kali memimpikan sesuatu, maka mimpi itu tidak datang kecuali sangat jelas bagaikan sinar fajar. Kemudian, beliau senang menyendiri dan khalwat di Gua Hira. Di sana Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam beribadah dalam beberapa malam sebelum setelahnya kemudian pulang kepada keluarganya dan menyiapkan bekal lagi untuk khalwat. Kemudian pulang lagi kepada Khadijah, lalu kembali mempersiapkan bekal lagi sehingga kebenaran mendatanginya di Gua Hira. Beliau didatangi malaikat yang kemudian berkata, “Bacalah!” Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”
Setelah itu, Malaikat Jibril mendekap dan memeluk Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam hingga ia merasa payah, lalu melepaskannya dan berkata:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْأِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْأِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Artinya,
1. Bacalah dengan (menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia,
4. Yang mengajar (manusia) dengan pena.
5. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq: 1-5). (Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, Fiqh Sîrah Nabawiyah, [Bairut, Dârul Fikr: 2013), halaman 77).
Demikianlah kejadian yang Allah subhânahu wata’âlâ kehendaki kepada Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam sebagai awal dan persiapan menerima misi besar yang akan mengubah sejarah manusia. Karena itu, sebelum misi mulia dimulai, Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam membersihkan dirinya dari hiruk pikuk duniawi dengan segala kotorannya.
Setelah sekian lama Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam menyendiri di Gua Hira untuk membersihkan jiwa dan memperhatikan kekuasaan Alllah, maka Allah subhânahu wata’âlâ memuliakannya dengan mengangkatnya sebagai rasul penutup dari para nabi dan rasul sebelumnya. Kejadian itu ditandai dengan hadirnya Malaikat Jibril ‘alaihissâlam atas perintah dari Allah subhânahu wata’âlâ untuk menyampaikan wahyu kepadanya.
Kemudian Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam pulang membawa wahyu itu dengan hati yang gemetar, gelisah dan dipenuhi rasa takut. Ia pulang menemui Sayyidah Khadijah binti Khuwailid radhiyallâhu ‘anhâ dan berkata, “Selimuti aku. Selimuti aku.” Lalu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam diselimuti olehnya hingga kegelisahannya mereda.
Syekh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dalam kitab Ar-Rahîqul Makhtûm menceritakan kejadian setelahnya. shallallâhu ‘alaihi wasallam memberi tahu Khadijah tentang kejadian itu dan berkata, “Aku sungguh mengkhawatirkan diriku.” Khadijah menukas, “Sama sekali tidak. Demi Allah, selamanya Allah tidak akan menghinakanmu. Engkau selalu menjalin kekerabatan, memikul beban, menolong orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan membantu pihak yang benar”, tegas Khadijah.
Setelah Nabi Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam tenang, Khadijah mengantarkannya kepada sepupunya, yaitu Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza. Ia penganut Nasrani di zaman Jahiliyah. Dia telah mencatat Injil dalam bahasa Ibrani. Usianya sudah lanjut dan matanya buta.
Khadijah radhiyallâhu ‘anhâ berkata kepada Waraqah, “Wahai sepupuku, dengarlah cerita anak saudaramu ini.”
Waraqah pun bertanya kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam, “Wahai anak saudaraku, apa yang kau lihat?”
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam lalu menceritakan apa yang dialami dan dilihatnya penuh kejujuran tanpa mengurangi maupun menambahinya. Waraqah lantas berkata, “Itu adalah An-Namus (Jibril atau wahyu) yang turun kepada Nabi Musa 'alaihissalâm . Seandainya, aku masih muda dan kuat, dan andai saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu.”
Rasulullah bertanya, “Apakah mereka akan mengusirku?”
Dia menjawab, “Ya. Setiap kali seseorang membawa apa yang kau bawa, pastilah ia dimusuhi. Apabila masamu itu ku alami, niscaya aku akan menolongmu sekuat tenaga.” Namun, tidak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia. Ia pergi untuk selamanya meninggalkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. dan wahyu pun putus untuk sementara (fatrah al-wahy).
Menurut Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdirrahman, Jabir bin Abdillah al-Anshari menceritakan tentang terhentinya wahyu tersebut, bahwa Rasulullah bersabda:
بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar suara dari atas, maka aku lihat ada malaikat yang pernah datang kepadaku di gua Hira, sedang duduk di atas kursi di antara langit dan bumi, maka takutlah aku padanya. Lalu aku pulang seraya berkata, “Selimutilah aku!” Lalu turunlah wahyu:
يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ. قُمْ فَأَنذِرْ. وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ. وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ. وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ
Wahai orang yang berselimut! Bangunlah, lalu berilah (manusia) peringatan, dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah!” (QS. al-Muddatsir, 74 :1-5).
Sesudah itu, wahyu pun turun terus-menerus.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 232). Pada wahyu yang kedua inilah, di usianya yang keempat puluh tahun, Muhammad diangkat sebagai Rasul, utusan Tuhan untuk membenahi tatanan umat manusia secara keseluruhan. Dalam hadits lainnya, diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin ra., bahwa Harits bin Hisyam r.a. telah bertanya kepada Rasulullah Katanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana cara wahyu datang kepada engkau?” Beliau menjawab:
أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الْجَرَسِ وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِي الْمَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الْوَحْيُ فِي الْيَوْمِ الشَّدِيدِ الْبَرْدِ فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا
“Kadang-kadang wahyu datang kepadaku seperti suara lonceng, itulah yang paling berat bagiku. Kemudian ia berhenti, dan aku sudah mengerti apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat datang kepadaku sebagai laki-laki, lalu ia berkata, maka aku mengerti apa yang diucapkannya.” Aisyah r.a. berkata: “Sungguh saya melihat wahyu turun kepada Nabi pada hari yang sangat dingin, lalu wahyu itu berhenti, dari kening beliau mengalir keringat.” (HR. Bukhari: 02, Muslim: 4304).
Yang dimaksud dengan ungkapan “seperti suara lonceng” ialah seperti bunyi lonceng besi yang gemerincing terdengar terus-menerus, bunyi yang bukan perkataan yang tersusun dari huruf-huruf. Wahyu melalui bentuk seperti ini, menunjukkan – menurut pendapat yang paling kuat – hadirnya malaikat. Dan kehadiran malaikat (yang menyampaikan wahyu) semacam inilah yang paling berat dirasakan Nabi dibanding kehadirannya dalam bentuk lain (sebagai seorang pria). Hal ini dapat dimengerti, sebab – sebagaimana dijelaskan oleh Filosof Ibnu Khaldun – pada saat itu terjadi suatu proses di mana kemanusiaan (Nabi) yang bersifat materi (jasmaniyah) lepas terkelupas sama sekali untuk kontak dengan alam malaikat yang bersifat rohani (ruhaniyah).(Rasyid Ridha, 1984: 185). Orang-orang yang pertama kali masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun); Dari kalangan perempuan adalah istri Nabi sendiri yaitu Khadijah binti Khuwailid, dari kalangan pemuda yaitu Ali bin Abi Thalib, sedangkan dari kalangan pria dewasa adalah Abu Bakar bin Abi Quhafa, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, dan masih banyak lagi yang lain, dari penduduk Makkah yang memeluk Islam. Mereka memilih Islam sebagai jalan hidup dengan tulus dan ikhlas.
Hari demi hari, dari waktu ke waktu, pengikut Nabi bertambah banyak. Mereka yang sudah Islam itu datang kepada beliau untuk menyatakan keislaman mereka sekaligus siap menerima ajaran-ajarannya. Gerak-gerik mereka itu tercium oleh kaum Quraisy yang ketika itu memegang kekuasaan penuh sebagai suku yang berkuasa di Makkah. Lebih-lebih setelah diketahui bahwa para pengikut Muhammad itu sangat membenci berhala-berhala dan dewa-dewa yang mereka sembah. Akhirnya, kaum paganisme ini mengobarkan api permusuhan kepada siapa saja yang masuk Islam. Akan tetapi, tumbuhnya agama Islam di perbukitan kota Makkah tidak dapat dibendung. Keimanan yang teguh dan keyakinan yang kuat menjadikan para pengikut Rasulullah rela berkorban demi mempertahankan agamanya. Hal itu membuat kaum musyrik Quraisy semakin membenci Muhammad dan ajarannya. Mereka mengira bahwa kata-kata Muhammad itu tidak lebih dari kata-kata pendeta atau filosof seperti Quss, Umayya, Waraqa, dan yang lain. Mereka sama sekali tidak menghiraukannya.
Tiga tahun kemudian sesudah kerasulannya, perintah Allah datang supaya Muhammad mengumumkan ajaran Islam yang masih disebarkan secara sembunyi-bunyi itu, bersamaan dengan turunnya wahyu:
وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ (214) وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ (215) فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّي بَرِيءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Syu’ara, 26: 214-216)
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (QS. al-Hijr, 15: 94)
Salah satu faktor yang mendongkrak perkembangan agama Islam secara pesat ini adalah keteledanan dari Nabi sendiri. Beliau sosok yang berbaik hati dan penuh kasih sayang. Beliau sangat rendah hati, berani membela yang benar, dan berperilaku sopan santun kepada sesamanya. Tutur kata beliau lemah lembut, selalu jujur dan berlaku adil kepada setiap orang. Tidak ada hak orang lain yang beliau langgar. Pandangan beliau terhadap orang yang lemah, miskin, papa, dan anak-anak yatim piatu, adalah bagaikan pandangan seorang bapak kepada anaknya sendiri yang penuh kasih sayang, lemah lembut, dan mesra. Itu semua menjadikan keberhasilan untuk beliau dalam menjalankan misinya.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ۞ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ۞ نَاصِرِ الحَقِّ بِالحَقِّ ۞ وَالهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ المُسْتَقِيمِ ۞ وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيمِ

Komentar
Posting Komentar